warta tangerang / mingguan
Edisi № 05 · Mei 2026

§ OPINI · Tangerang Selatan

Pendidikan tinggi di Tangerang: kita butuh universitas, bukan banyak kampus

Opini panjang: 14 PTS di Tangerang Selatan, tapi tidak ada satupun yang masuk top 50 nasional. Kita tidak butuh lebih banyak kampus — kita butuh universitas yang serius dengan mission.

Oleh Hendra Wijaya · 21 April 2026 · 12 menit baca

Penulis: Hendra Wijaya, Pemimpin Redaksi. Disclosure: Penulis adalah alumni UI, tidak terafiliasi dengan PTS Tangsel manapun.

Tangerang Selatan punya 14 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dengan total mahasiswa terdaftar sekitar 87 ribu. Sekilas terdengar mengesankan — pusat pendidikan tinggi di Banten, alternatif untuk yang tidak masuk PTN.

Tapi mari kita jujur: dari 14 PTS itu, tidak ada satupun yang masuk top 50 nasional dalam ranking apapun. Bahkan UPH, yang paling besar dan dengan pendanaan terbaik, posisi nasional dalam 50-100. Universitas Atma Jaya Tangerang? 100-150. STIE/STIK/STMIK di luar UPH? Hampir tidak terlihat di ranking apa pun.

Ini bukan opini personal. Ini fakta empiris. Dan ini masalah serius untuk masa depan Tangerang Selatan sebagai kota.

Apa yang sedang terjadi

Saya tidak akan mengkritik kampus-kampus tertentu — bukan job saya. Yang akan saya kritik adalah strategi institusional yang konsisten di antara PTS Tangerang Selatan:

1. Fokus ke kuantitas, bukan kualitas. Hampir semua PTS Tangsel buka 20-40 program studi dengan kapasitas 50-200 mahasiswa per angkatan. Result: dosen yang sama mengajar di 3-5 program studi berbeda, kualitas pengajaran turun, riset hampir tidak ada.

2. Mission yang vague. Kampus mana yang punya clear mission? “Mencetak SDM unggul untuk Indonesia” — itu mission semua kampus di Indonesia. Tidak ada PTS Tangsel yang spesialis: “Kampus terbaik di Indonesia untuk software engineering” atau “Kampus terbaik untuk hospitality dan F&B management”.

3. Investasi infrastruktur > investasi SDM dosen. Banyak PTS Tangsel punya gedung bagus, lapangan basket, cafe modern. Tapi gaji dosen junior masih Rp 4-6 juta/bulan. Dosen senior Rp 8-12 juta. Untuk konteks: gaji junior developer di startup BSD Rp 12-18 juta/bulan. Kalau kita tidak bayar dosen kompetitif, talenta terbaik tidak akan jadi dosen — yang akan jadi adalah yang tidak bisa kompetisi di industri.

4. Riset hampir tidak ada. Tahun 2025, total publikasi Scopus dari 14 PTS Tangsel: 287 paper. Compare: ITB sendirian 4.200 paper. UI: 6.800 paper. NTU Singapore (mirip Tangsel size): 22.000 paper.

Mengapa ini penting

Pendidikan tinggi yang serius bukan tentang gedung bagus atau jumlah mahasiswa. Pendidikan tinggi serius adalah:

  • Tempat di mana riset original dihasilkan yang advance pengetahuan
  • Tempat di mana mahasiswa di-train untuk berpikir kritis, bukan menghafal
  • Tempat di mana komunitas akademik nyata yang attract mahasiswa internasional + visiting researcher
  • Pusat ekonomi pengetahuan yang membentuk industry di sekitarnya

PTS Tangsel saat ini tidak melakukan satu pun dari itu secara serius.

Konsekuensinya untuk Tangerang Selatan:

Talenta meninggalkan Tangsel untuk studi. Anak-anak Tangsel yang tertarik computer science pergi ke ITB. Yang tertarik medis ke UI atau UGM. Yang tertarik design ke ITS Surabaya. Setelah lulus, mereka tidak kembali ke Tangsel — karena tidak ada ekosistem yang cocok.

Industry tidak punya supplier talenta lokal. Startup BSD harus hire dari Jakarta atau remote dari Yogya/Bandung. Tidak ada pipeline lokal yang cukup.

Tangerang Selatan tetap menjadi “kota satelit”. Tanpa institusi pendidikan tinggi yang serius, Tangsel akan selalu inferior ke Jakarta sebagai pusat ekonomi pengetahuan. Migrasi reverse — Jakarta → Tangsel — tidak akan terjadi.

Apa yang harus dilakukan

Bukan tugas saya untuk dictate ke PTS apa yang harus mereka lakukan. Tapi sebagai warga Tangsel yang peduli, saya akan kasih opini:

Untuk PTS Tangsel:

  1. Pilih spesialisasi dan commit. Daripada buka 30 program studi, fokus ke 3-5 yang kalian benar-benar baik di dunia. UPH bisa jadi “kampus terbaik untuk healthcare management Asia Tenggara”. Atma Jaya bisa jadi “kampus terbaik untuk hospitality di Indonesia”. STIE/STMIK Tangsel bisa kolaborasi jadi institusi yang serius di software engineering.

  2. Invest in researchers, not buildings. Naikkan gaji dosen ke setidaknya 80% dari industry rate. Hire visiting researcher dari kampus top global. Build research center yang serius, bukan lab kosong yang cuma untuk foto.

  3. Open data + transparansi. Publikasikan budget, publikasi research, employment rate alumni. Kampus serius tidak takut transparan.

Untuk Pemkot Tangsel:

  1. Insentif fiskal untuk research-intensive universities. PBB diskon 50% untuk kampus yang publikasi >100 paper Scopus/tahun. Kampus yang fokus quantity (bukan quality) tidak dapat.

  2. Partnership dengan industri lokal. Berikan grant matching untuk research yang involve BSD/Bintaro startup. R&D Tangerang harus jadi kompetitif advantage, bukan afterthought.

  3. Public-private research grants. Pemkot bisa sediakan Rp 50-100 miliar/tahun untuk research yang relevan dengan masalah Tangsel — banjir, urban planning, kesehatan masyarakat, lingkungan. PTS Tangsel kompetisi untuk grant ini.

Untuk orang tua + calon mahasiswa:

  1. Berhenti pilih PTS berdasarkan gedung dan brand. Pilih berdasarkan publikasi dosen, employment outcome alumni, dan kualitas kurikulum.

  2. Pertimbangkan PTN dulu. UI, ITB, UGM, ITS — biaya kuliah lebih murah, network lebih kuat. Kalau tidak masuk PTN, pertimbangkan PTS top: BINUS (di Jakarta tapi tidak terlalu jauh), Prasetiya Mulya, Sampoerna University.

  3. Untuk yang akhirnya di PTS Tangsel: be proactive. Jangan tunggu kampus kasih kesempatan — cari internship, riset, kolaborasi dengan industry BSD sendiri.

Penutup

Saya tidak bilang PTS Tangsel sekarang “buruk”. Banyak alumni mereka sukses, banyak dosen yang baik, banyak mahasiswa yang serius. Tapi sebagai institusi, mereka tidak achieve potential yang seharusnya.

Tangerang Selatan deserves better. Tidak ada alasan kota dengan populasi 1,9 juta + ekonomi dinamis + lokasi strategis tidak punya satupun universitas yang masuk top 50 nasional.

Saya berharap dalam 10 tahun, kita bisa baca opini berbeda — bahwa Tangsel telah membangun ekosistem pendidikan tinggi yang serius. Tapi itu hanya terjadi kalau ada commitment dari PTS, support dari Pemkot, dan demand dari masyarakat untuk standard yang lebih tinggi.

Status quo tidak boleh continue. Kita layak universitas, bukan banyak kampus.


Right of reply

Opini ini akan dikirimkan ke 14 PTS Tangerang Selatan untuk respons. Reply yang diterima akan dipublikasikan di edisi berikutnya tanpa edit substantif.


← Beranda Semua rubrik